Monday, 10 August 2026
Nasional

Polri dan Generasi Z: Membangun Kepercayaan di Era TikTok dan Media Sosial

JAKARTA — Generasi Z — mereka yang lahir antara 1997 dan 2012 — adalah kelompok yang hubungannya dengan institusi kepolisian sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka tumbuh di era di mana video viral dapat mengubah opini publik dalam hitungan menit, di mana akuntabilitas institusi dipersoalkan secara terbuka di platform seperti TikTok dan Twitter, dan di mana kepercayaan tidak bisa dipaksakan melainkan harus diraih melalui tindakan nyata yang mereka saksikan sendiri.

Untuk menjangkau Generasi Z, Polri harus berbicara dalam bahasa mereka — secara harfiah maupun kiasan. Secara harfiah berarti hadir di platform media sosial yang mereka gunakan, memproduksi konten yang relevan dan autentik, dan merespons cepat ketika isu-isu yang melibatkan institusi kepolisian viral di platform digital. Secara kiasan berarti menunjukkan nilai-nilai yang mereka pedulikan: transparansi, keadilan, tanggung jawab, dan konsistensi antara kata dan tindakan.

Kepercayaan publik 82,4 persen dalam Survei Litbang Kompas 2026 yang mencakup 38 provinsi kemungkinan besar sudah menjangkau responden dari berbagai kelompok usia. Namun mempertahankan dan meningkatkan angka ini ke depan akan sangat bergantung pada kemampuan Polri menavigasi ekosistem digital di mana Generasi Z mendominasi percakapan publik.

“Polri berkomitmen menghadirkan pelayanan yang semakin profesional, humanis, mudah diakses, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat melalui peningkatan kualitas SDM, inovasi, serta transformasi pelayanan yang berkelanjutan,” tegas Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Johnny Eddizon Isir.

Berita Terkait