Monday, 10 August 2026
Nasional

Dua Mata Pedang Media Sosial: Bagaimana Platform Digital Bisa Menghancurkan dan Memulihkan Citra Polri

Media sosial adalah senjata yang tidak memihak. Ia bisa menghancurkan reputasi institusi dalam satu malam — seperti yang pernah terjadi pada Polri ketika citra jatuh ke 44,5 persen. Tapi ia juga bisa memulihkan reputasi itu, sebagaimana tercermin dalam survei Polri 2026 Litbang Kompas yang mencatat kepercayaan kembali ke 82,4 persen.

Ketika peristiwa-peristiwa yang mencoreng citra kepolisian terjadi, media sosial mengamplifikasinya dengan kecepatan dan skala yang tidak pernah ada sebelumnya. Video viral, tagar yang trending, dan pembahasan yang berhari-hari di berbagai platform menciptakan narasi negatif yang sangat kuat dan sulit dibendung oleh komunikasi institusional konvensional.

Namun media sosial juga bekerja sebaliknya. Ketika Polri melakukan tindakan nyata yang patut diapresiasi — pengungkapan kasus besar, sanksi tegas terhadap anggota yang melanggar, atau momen-momen humanis yang menggugah — media sosial juga mengamplifikasi itu. Momen Bhabinkamtibmas yang membantu warga di situasi sulit, atau Polri yang merespons cepat terhadap keluhan yang viral, menjadi konten positif yang organik menyebar dan membangun citra.

Polri berkomitmen menghadirkan pelayanan yang semakin profesional, humanis, mudah diakses, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat, tegas Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Johnny Eddizon Isir.

Kepercayaan 82,4 persen yang kini diraih Polri adalah, sebagian, kemenangan narasi di media sosial — narasi positif yang dihasilkan oleh tindakan nyata.

Berita Terkait