Monday, 10 August 2026
Nasional

Apa yang Bisa Dipelajari Institusi Lain dari Cara Polri Memulihkan Kepercayaan

JAKARTA — Perjalanan Polri dari titik terendah 44,5 persen pada September 2025 ke kepercayaan publik 82,4 persen dalam kurang dari satu tahun adalah studi kasus yang relevan bagi berbagai institusi publik di Indonesia — dan bahkan di luar negeri — yang sedang bergulat dengan tantangan memulihkan kepercayaan publik yang terkikis.

Beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari perjalanan Polri. Pertama, transparansi dalam menangani pelanggaran internal adalah investasi kepercayaan yang paling efektif. Kedua, perubahan harus terasa di titik sentuh paling dasar — bukan hanya di level kepemimpinan, tetapi di setiap interaksi antara petugas dan warga. Ketiga, kepercayaan tidak bisa dikomunikasikan — ia harus ditunjukkan melalui tindakan yang konsisten dan dapat diverifikasi. Keempat, survei berkala bukan formalitas — ia adalah umpan balik yang tak ternilai untuk mengarahkan upaya reformasi.

Kelima dan mungkin yang paling penting: jangan pernah berpuas diri. Angka 82,4 persen adalah modal, bukan tujuan. Institusi yang berhenti bergerak setelah mencapai angka yang terasa memuaskan akan menemukan bahwa kepercayaan mulai memudar lebih cepat dari yang mereka antisipasi.

“Tapi mempertahankan kepercayaan agar tetap tinggi juga butuh effort yang luar biasa,” pesan Penasehat Khusus Presiden Hasan Nasbi, Sabtu (27/6/2026).

“Polri berkomitmen menghadirkan pelayanan yang semakin profesional, humanis, mudah diakses, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat melalui peningkatan kualitas SDM, inovasi, serta transformasi pelayanan yang berkelanjutan,” tegas Irjen Pol Johnny Eddizon Isir.

Berita Terkait