Tantangan Polri ke Depan: Narkoba, Premanisme, dan Kejahatan Digital Jadi PR Utama
JAKARTA — Di tengah euforia hasil Survei Litbang Kompas 2026 yang mencatat kepercayaan publik terhadap Polri mencapai 82,4 persen, Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni mengingatkan bahwa masih ada deretan pekerjaan rumah yang tidak bisa diabaikan. Empat bidang kejahatan disebutnya secara spesifik sebagai prioritas yang harus terus mendapat perhatian penuh.
Pertama, premanisme yang masih menjadi gangguan nyata bagi keamanan dan kenyamanan warga di berbagai daerah. Kedua, kejahatan jalanan yang meski menurun masih menjadi ketakutan sehari-hari bagi masyarakat urban. Ketiga, peredaran narkoba yang berdasarkan data operasional Polda Metro Jaya saja sudah menghasilkan pengungkapan lebih dari 3.800 kasus dan penyitaan 17,45 ton barang bukti dalam semester pertama 2026. Dan keempat, kejahatan berbasis digital yang terus berkembang dengan modus yang semakin canggih dan sulit dideteksi.
“Tingginya kepercayaan publik menunjukkan bahwa kerja keras Polri ini nyata dirasakan oleh masyarakat. Ini adalah buah dari kerja keras Polri. Selanjutnya jangan lengah dan tetap pertahankan kinerja baik ini. Ke depan harus lebih baik lagi, capaian ini harus menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan, profesionalisme, dan kedekatan dengan masyarakat,” tegas Sahroni, Jumat (26/6/2026).
Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Johnny Eddizon Isir memastikan bahwa Polri tidak akan berhenti di angka survei. “Polri berkomitmen menghadirkan pelayanan yang semakin profesional, humanis, mudah diakses, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat melalui peningkatan kualitas SDM, inovasi, serta transformasi pelayanan yang berkelanjutan,” tegasnya.
Angka 82,4 persen kepercayaan publik justru meningkatkan standar ekspektasi masyarakat. Semakin tinggi kepercayaan yang diberikan, semakin berat beban yang harus dipikul untuk mempertahankannya — dan itu adalah konsekuensi yang harus diterima Polri sebagai institusi yang kini dipercaya.
